Walau secara kasat mata pria terlihat tangguh dan kuat, tapi pria juga manusia biasa yang punya kebimbangan dan ketakutan tersendiri. Pria itu (secara tersirat) mempunyai ketakutan akan 3 hal. Takut kekurangan secara finansial, takut ngga sukses dan takut dikejar umur.

Percaya?

Ketakutan pria


Oke ketakutan yang pertama, ketakutan secara finansial. Jadi laki harus dituntut mapan secara finansial. Gimana caranya? Kerja keras dong! Demi mengejar ambisi menjadi mapan, maka kerja keras menuntut kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala. Bahkan mungkin tidur pun menjadi sesuatu yang sangat mahal demi menggapai ambisi.

Namun, tiba-tiba orang disekitar kalian berceloteh; “Jangan terlalu berambisilah, hidup cuma sekali. Demi ngejar ambisi, moso ngorbanin hidup? Mau cari apa? Samudra masih punya air yang berlimpah, kamu ngga akan kekeringan. Rejeki itu sudah diatur. Tenang aja.” Errgh.. Oke, sip!

Dari ketakutan pertama, masih ada ketakutan kedua; sukses! Nah apa definisi sukses itu sendiri? Apa ukuran seseorang dibilang sukses? Secara mainstream (mungkin) punya pekerjaan bagus,  secara finansial oke, punya mobil mewah, rumah waah, dan lain-lain, dan sebagainya.  Sekali lagi, sukses pun relatif untuk setiap orang. Dan lagi-lagi batas sukses itu ngga bisa diukur.

Sukses ngga bisa diukur walau jabatannya ada dilevel Kepala Seksi. Dia pasti mengejar level yang lebih tinggi; Kepala Bidang, Kepala Perusahaan, menjadi kepala perusahaan lain yang lebih besar dan terus mengejar yang lebih tinggi.

Namun, lagi-lagi mereka berceloteh; “Jangan kerja mulu lah. Luangkan waktu buat yang lain. Jalan-jalan kek, pacaran kek.” Aah..Oke, sip!

Oke baiklah, setelah “jangan terlalu berambisi” dan “jangan kerja melulu“. Pria akan merilekskan otaknya dan seluruh otot-ototnya untuk; bermain. Main PS, utek-utek radio control, berburu koleksi action figure atau sekedar membaca komik. Yep, pria sedewasa apapun tidak akan pernah jauh-jauh dari beberapa aktivitas masa kecilnya.

Dan kali ini, mereka berteriak; “Main mulu kek anak kecil. Inget umur woi, dewasa dikit dong!” ..$@#+%^!!

Bingung? Sebentar, buka buku motivasi dulu. Siapa tau dapet secercah inspirasi. Oke, lalu apa yang terjadi setelah bolak balik baca buka motivasi?

  • Di dunia ini ngga ada yang gratis. Karena itu, kerja keras!” dan ngga lama kemudian “Pria yang mencurahkan segala perhatiannya untuk bekerja akan berakhir dengan kesendirian.
  • Konon orang sukses mencurahkan waktunya untuk bekerja dan hanya tidur 4 jam sehari.” dan ngga lama kemudian “Seorang pria sehat tidur 8 jam sehari.
  • Keluarga nomer satu, berikan yang terbaik untuk mereka.” dan ngga lama kemudian “Waktu bersama orang-orang tercinta adalah hal yang paling berharga.

Lalu, gimana caranya bekerja keras tapi tidak ditelan pekerjaan? Gimana caranya jadi pria sukses tapi sehat secara jasmani dan rohani? Gimana caranya memberikan yang terbaik untuk keluarga secara kemapanan tapi juga punya waktu bersama mereka?

Gimana? Bingung? Iya bingung. Gimana cara menyeimbangkan yang satu dengan yang lainnya?

Sebut saja Bruce Wayne. Seorang pria mapan, pintar, sukses dan bisa membeli segalanya didunia ini, kecuali seorang istri yang menyambutnya dirumah. Istrinya minta cerai, karena Bruce banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja. Apa Bruce bahagia? Ya mungkin saja dia bahagia ditengah tumpukan uangnya dan dikelilingi mobil-mobil mewahnya.

Dilain kehidupan sebut saja Peter Parker. Seorang pria sederhana, bekerja sebagai fotografer freelance sebuah surat kabar, bersusah payah menghidupi keluarga, namun dia memiliki istri yang menyambutnya selepas pulang bekerja. Dan dia punya waktu yang berlebih untuk keluarganya, karena sebagai seorang fotografer freelance dia hanya mendapat tugas yang tidak mengharuskannya bekerja seharian dikantor. Apa Peter bahagia? Ya mungkin saja dia bahagia ditengah keluarganya.

Tapi, saya ngga mau jadi Bruce Wayne atau Peter Parker. Saya akan berusaha mencari celah diantara keduanya. Lalu setelah itu berdoa supaya tidak tergoda untuk lebih “sukses” atau tergoda untuk lebih “santai”.

Caranya? I dont know. Hahahaha.. Karena saya juga ngga tau solusi tepatnya gimana. Karena saya juga bingung, saya juga ketakutan dan saya juga frustasi. Tapi tidak mematahkan semangat untuk menyeimbangkan semuanya!

About d0th

shut up and move on.

3 responses »

  1. Fansi says:

    Ukuran bahagia untuk setiap orang memang berbeda-beda. Gampangnya aja: aku bahagia pake gadget paling keren saat ini sedangkan kamu bahagia cukup dengan Hisen–apalah itu. Betul, ngga? Yang paling penting dari semua hal adalah bersyukur🙂

  2. Fansi says:

    Mapan punya arti berbeda utk tiap orang. Ada yg berpendapat punya keluarga bahagia itu mapan, betapapun pekerjaannya “gak hebat”. Yang lain mengharuskan punya gaji gede biarpun trus ga nikah2 atau keluarga ga keurus demi kepengen disebut “mapan”. Cara ngimbanginnya mungkin adalah manajemen waktu. Kerja harus, ngejer duit wajib, tapi batasi jamnya. Disiplin nurutin jadwal yg ada. Setelah jam kerja selesai, urusin deh keluarga atau hubungan sosial. Memang susah, apalagi kalo dasarnya workaholik atau dasarnya males2an kerja.. jadi antara “kerja melulu” atau “main melulu”. Belum lagi urusan keluarga. Pertama tentukan cita2 kamu, fokus kamu, bikin jadwal, agenda, target, jalanin semua dgn disiplin, jangan lupa ketawa dan bersyukur. Ih apa deh jadi khotbah. Maap tulisannya ga terstruktur :p

    doth jawab:
    Hauwik tambah bingung. Hahahaha.. Masalahnya ngga sesimpel gitu sih. Ya namanya juga pria bertanggung jawab, banting tulang semua buat keluarga. Tapi kadang bingung juga kapan harus berhenti? Pada saat badan udah ngga mampu gerak lagi atau gimana? Susah emang kalau obsesi berbalut ambisi. Preeet..

  3. bunbun says:

    Yang ketakutan ketiga belum ada penjabarannya nih..takut umur? kata sebagian orang, life begin at 40.. nah berarti jgn takut donk dengan umur, krn menginjak usia 40 kehidupanmu baru dimulai =p

    Hahaha jangan frustasi donk, belum dijalani kok udah frustasi duluan🙂
    Yah, mungkin itulah nasib sebagai seorang lelaki yang nantinya pada akhirnya menjadi kepala keluarga dengan segenap usahanya menghidupi keluarganya..SMANGAD!🙂

    Kalo menurutku sih manusia hidup memang harus punya gegayuhan (cita-cita) dan biasanya inilah yg mejadi ukuran kesuksesan & kebahagiaan seseorang, jadi ga perlu berdoa supaya tdk tergoda lebih “sukses”, justru berdoalah supaya bisa menyeimbangkan kesuksesan di karir dan keluarga.. kalo ngomong sih memang keliatannya gampang yaa :p

    Mungkin caranya adalah banyak2 belajar, tukar pikiran dan melihat pada orang-orang tua kita atau siapapun itu yang bisa menjadi role model..kalo mereka bisa, kita juga pasti dan harus bisa lebih dari pada mereka..

    YOLO.. You Only Live Once..so go get your dream and catch success!

    Salam manis dari gadis paling manis..hahaha.. Great writing anyway^^


    d0th jawab:
    Iiih kata siapa hidup dimulai umur 40? Belum hidup dong sebelum umur 40? Hihihi.. ngga ding😛
    Tapi emang iya rata-rata hidup dimulai umur 40, sebelum itu emang harus banting tulang dan banting lemak (kalau perlu) supaya bisa “leha-leha” diusia 40. Nah masalahnya adalah ketika pada usia itu belum puas atau belum merasa sukses. Kapan kira-kira bisa dapet waktu untuk keluarga kalau masih berpikir seperti itu?😛

Ga ada cendol, komen pun jadi. Monggo..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s