Disebuah danau, tampak sepasang pria dan wanita sedang naik perahu. Mereka tampak begitu mesra, mendayung perahu bersama sambil tertawa dan bercengkrama. Lalu entah darimana ceritanya, tiba-tiba saja perahu yang mereka tumpangi turguling. Si wanita terjatuh, sang pria dengan sigap berenang menolong si wanita, dibawa kepinggir danau dan diberi nafas buatan. Si wanita tersadar, mereka saling berpandangan, lalu sekali lagi saling “memberi nafas buatan” dan wualaa.. scene berikutnya adalah mereka berpacaran.

Namun sayangnya, keluarga si pria menentang hubungan mereka. Terjadi pertengkeran hebat, lalu entah darimana (lagi) ceritanya tiba-tiba saja terjadi perebutan harta. Keluarga si pria jatuh miskin. Namun si wanita dengan segala kerendahan hatinya tetap setia mendampingi hidupnya. Namun (entah kenapa lagi) tante si pria muncul dan memisahkan hidup pasangan sejoli ini. Kembali lagi terjadi perebutan harta dan..

Oke stop it. It just fvcking shit sinetron Indonesia.


Sebelum berjalan lebih lanjut, mari berkaca dulu. Selama ini kebencian terhadap sinetron berlandaskan pemahaman sehari-hari bahwa cerita-cerita didalam sinetron itu tidak nyata, tidak pula mewakili kehidupan sehari-hari seperti yang kita jalani. Apa iya hidup ini lebih nyata dari sinetron? Atau hidup ini justru lebih drama? Oke mari periksa kebenarannya.

Sekolah / Kampus
Holala mamamia..Disinilah (mungkin) asal muasal dimulainya drama. Selepas cinta monyet-monyetan dari SMP, sekarang cinta sudah berubah menjadi cinta yang lebih dewasa. Ngambek-ngambekan disusul berlari lari ditengah hujan, “Kamu jahad! SMS ngga pernah, telfon ngga pernah.” | “Aa..aku ngga punya pulsa.”. Drama!

Kantor
Mendekati atasan, makan siang bareng, menjilat, menyombongkan kinerja, menjatuhkan rival dari belakang (biasanya dimulai dari menyebarkan gosip), atasan terkesan, lalu mendapat jabatan strategis. Politik standart dalam memuluskan karir. Drama!

Facebook
Pasang status galau. Hanya untuk memberi tahu dunia bahwa sedang ada masalah. Memancing rombongan pertanyaan dan simpati. Kemudian curhat sampai berlinang air mata tentang ketidakjelasan hidup. Drama!

Twitter
Blessing you twitter. Panggung drama seluas 140 karakter. Bisa dibilang saat ini twitter adalah panggung drama mini namun berdampak paling maxi. “Semarang gas pool!” adalah sebuah drama yang mengatakan “Sementara aku traveling, jaga rumah baik-baik. Oleh-oleh? Oo jangan kawatir.”. “Capek deh jomblo terus.” adalah drama yang mengatakan “Butuh pacar nih buat malam minggu dan malam-malam berikutnya. Moso ngga ada yang mau sama aku?”. Atau saling RT “Iya beib :* RT @cewebaik Makasih dinnernya beib RT @cowobaik dinner romantis.” drama yang mengatakan “Lagi pacaran romantis nih, jadi dunia nyata dan timeline adalah milik kami berdua.Kenapa? Iri? Keberatan?”. “Hello ngga usah pamer lagi pacaran kale. Emang twitter punya nenek moyang lo?” drama yang artinya “Bangke, ngga usah beib-beiban di TL.

Yes, Life is big drama! We’re Drama King and Queen! Jadi bukan mustahil kadang cerita sinetron mirip dengan cerita kehidupan sehari-hari kita (namun dengan extra musik dan extra drama). Percaya saja cerita sepasang pria dan wanita yang sedang tercebur didanau itu benar-benar ada. Hanya saja kita tidak tahu kapan dan dimana.

Oke kembali lagi ke realita. Bahwa sesungguhnya kita adalah sutradara drama kita sendiri. Sebagai sutradara tentu saya bebas membuat drama hidup. Apakah itu nantinya drama berisi 100% kegalauan, dengan latarbelakang suram dan soundtrack yang menyedihkan. Tapi untuk apa? Saya lebih suka membuat panggung drama saya dengan sentuhan komedi, dengan bumbu petualangan, romantisme dan an awesome happy ending. Drama yang ketika diceritakan kembali akan membuat banyak orang tersenyum.

Ini ceritaku, apa ceritamu?

About d0th

shut up and move on.

2 responses »

  1. bunz says:

    Ahahaha… bener bangeett.. reality is more dramatic than sinetron!! This is the watching world.. dimana semua apapun itu bukan hanya jadi konsumsi pribadi.. mau kamu lg p**py sampe tiba di rumah pun ketauan..this is the watching world generation, enjoy it! And i enjoy reading this of course! thumbs up!

    • d0th says:

      Yep, reality is more dramatic than sinetron. Tapi syukurnya ngga ada backsound yang lebay. hehehe.. Jadi lebih apa cerita kehidupan yang ingin kamu buat?

Ga ada cendol, komen pun jadi. Monggo..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s