Di sebuah warung kopi, seorang kawan pernah bertanya “Apa bedanya warung kopi dulu dan sekarang?”. Beberapa diantaranya diam dan tidak menyahut, sibuk memainkan rokok dan menyeruput kopinya dalam-dalam dengan mata yang tidak lepas dari layar handphone. Lalu pertanyaan itu dijawabnya sendiri “Warung kopi dulu, semua duduk ngobrol sambil nunggu kopinya dateng. Kalau warung kopi sekarang, semua pegang handphone sampai ngga sadar kopinya udah dateng.” begitu sahutnya.



Lepas cerita, namun masih di sebuah warung kopi ditempat yang berbeda dan penikmat kopi yang berbeda pula. Kali  ini pengunjungnya rata-rata adalah abang-abang tukang becak yang kebetulan beristirahat sambil menunggu penumpang memakai jasa genjot mereka. Dengan baju lusuh dan penuh peluh, gurat wajah letih terpapar jelas. Gelas-gelas kopi telah sampai di titik dingin, dimana rasa panas dan asap mengepul sudah terganti ampas kopi.

Mobil-mobil mewah melintas, memanggil angin untuk menerbangkan debu melintasi hidung dan mulut mereka. Namun mereka tidak peduli, mereka sibuk tertawa dan bercanda. Menjauhkan segala hingar bingar dunia dengan segala kemajuannya.

Carut marut kondisi ekonomi keluarga sepertinya cukup mereka rasakan sendiri tanpa perlu menggalau lewat twitter dan nge-tweet “Haji Romli tega banget dah, udah nagih tanggal segini.”. Kalaupun perlu dicurhatkan, teman-teman seperjuangan siap mendengarkan tanpa terbagi dengan bunyi-bunyian “PING”. Rona wajah bahagia  tersimpan bagus pada sebuah frame dalam harddisc bernama hati tanpa perlu jeprat jepret dengan Instragram.

Ironi.

Perbandingan kedua warung kopi tadi sejenak membuat sebuah tanda tanya, apakah modernisasi sudah mengikis nilai-nilai keakraban?

Damm you sophisticated gadgets.

Kadang sesuatu yang canggih  bisa menjadi suatu yang buruk. Membuat kita menjadi pemalas karena semua bisa digantikan dengan jentikan jari.

Sebagai contoh, sebuah Blackberry dengan Blackberry Messanger-nya mampu membuat yang jauh menjadi dekat. Tapi tak jarang juga membuat yang dekat menjadi jauh. Kenapa bisa? Sifat dasar manusia pada saat bersosialisasi adalah bicara. Namun sifat dasar tersebut seolah tumpul, ketika manusia membiasakan diri berkomunikasi dengan tulisan. Berkat teknologi, karakter “titik dua – minus – kurung tutup” bisa mengganti sebuah senyuman, HURUF BESAR semua menjadi indikasi seorang marah, atau sekedar “?” artinya dia sedang bingung.

Lalu apa fungsi otot muka kalau pada akhirnya malas dipakai? Menurut saya; experience melihat  seseorang tertawa, mendengar kata sayang langsung dari mulut seseorang atau bahkan mendengar tangisan adalah pengalaman hidup yang luar biasa. Experience hidup itulah yang membuat saya, anda dan kita bisa merasa hidup sehidup hidupnya. Namun terkadang gaya hidup modern mengubah diri kita menjadi robot. Robot yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar dan individual.

So, if you feel that or do that, sorry..You are fucked! But dont worry, you are not alone. Because I’m as fucked as you are. Jadi kenapa kita tidak sama-sama berubah. Ambil handphone, smartphone, iphone atau blackberry, hubungi teman-teman anda, ajak ke warung kopi. Bercengkrama bersama sambil menunggu kopi datang dan menikmati seduhan kopi ditemani tawa renyah teman-teman anda; bersantai sejenak disebuah warung kopi.

About d0th

shut up and move on.

9 responses »

  1. Fansi says:

    Sudah kubilang, apa2 yang klasik itu lebih keren. Hidup ngikutin arus kan ga seru. Jadi kenapa kamu ga buang aja itu hpmu yang sampe 2 biji itu. Ahahaha…

    Oya salah satu faktor penumpul otak anak jaman sekarang adalah gadgets. Bikin mereka males baca buku, males maen di luar, males komunikasi yg asik. Prepare yourself, the end of the world is coming!

    • d0th says:

      Ngikutin arus mah tetep. But with own my way. Supaya ngga balik ke jaman purba juga, ngga ada salahnya ngikutin arus. Asek!
      Etapi yang bikin otak anak muda jaman skrg tumpul adalah otak anak muda jaman dulu. Jadi gmn nih enaknya? Kita mikir buat numpulin otak anak muda jaman yang akan datang aja😀

  2. bunz says:

    4 thumbs up for this writing!! Beneerr 1000 persen daahh… Gadget ooh gadget..bahkan nulis blog pun kadang lewat gadget. Eh tapi sekarang abang becak juga pake gadget lhoo jgn salaahh.. take the good and the bad out of it =) yang terpenting adalah jangan pernah nyuekin orang2 yang sedang berbicara dengan’mu dengan asik ber gadget.. jadi berasa ngomong sama tembok =))

    • d0th says:

      Iya pakai hengpong si abang becaknya, tapi kan buat delivery becak kalau ada yang nyari. Hihihi..
      Dan fenomena yang sering terlihat justru orang asik maenan henpon waktu diajak ngobrol. Akhirnya brasa ngomong sama tembok.

  3. Icha says:

    Waow…puas baca tulisanmu bang doth…hasrat yang tersalurkan…ha ha ha…

  4. wewe says:

    ahahyy., muup baru bisa komeng !!
    ——————————————–

    (y) (y) (y) (y) (y) dapet lima jempol., :p
    jadi juga ya tulisan ini., bagus juga khan klo di jadiin topik bahasan.,
    keehhh..keeehhh…kehhh..,

  5. wewe says:

    hayukkkk., kemon atuh sonn., udah nangkring neh di warkop🙂

Ga ada cendol, komen pun jadi. Monggo..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s