Yep tahun 2011 selesai sudah.  Keseruan, kehebohan dan kesedihan sudah terlewati, dan menjadi masa lalu. Cerita lalu yang bakal terbawa dimasa mendatang, cerita lalu yang bakal jadi tolak ukur dan pelajaran dimasa sekarang. Dan seperti halnya adat setiap awal tahun, selalu ada yang namanya “Resolusi”.

Lalu pertanyaan klise pun terlontar, “Apa resolusimu tahun ini?”


Seperti  yang sudah-sudah, setiap kebanyakan orang akan membuat resolusi. Apakah akan terwujud atau tidak? Itu urusan belakang, yang penting bikin saja. Resolusi, merupakan sebuah cita-cita yang harus terlaksana pada tahun yang bersangkutan. Tentu saja setiap masing-masing individu akan mempunyai resolusi yang berbeda. Ngga semua berteriak dengan lantang apa resolusinya, terkadang cukup disimpan dalam hati.

Tapi nyatanya ada fenomena menarik, beberapa individu sering kali memompa semangat dengan kekuatan penuh diawal tahun, namun ngga sedikit yang akhirnya “gembos” pada pertengahan tahun. Kembali lagi akhirnya hal ini menjadi sesuatu yang klise, merasa gagal ditahun ini dan mencoba meledakkan kembali ditahun depan.

Padahal resolusi tahun baru bukan dinilai dari seberapa gemilangnya janji yang dibuat, namun sejauh mana diri kita mampu mewujudkan cita-cita tersebut dengan tekad dan penuh komitmen.

Belajar dari tahun-tahun yang sudah lewat dan berlalu begitu saja tanpa hasil, tahun ini rasanya cara pandang harus diubah. Pertama adalah dengan tidak cepat merasa puas terhadap pencapaian ditahun sebelumnya.  Se-enggaknya belajar dari pengalaman dimasa yang sudah-sudah.

Kedua adalah dengan membuat diri selalu tertantang. Keluar dari zona nyaman yang kita “tiduri” sekarang. Bergerak, bergerak dan bergerak mencari tantangan baru. Membuat diri berpikir seolah hari ini adalah hari terakhir bersama orang yang dicintai, sehingga memotivasi untuk bertindak lebih baik sebelum ada penyeselan diakhir nanti.

Yep untuk saat ini masa lalu sudah berbentuk serpihan kenangan. Karena kita hidup dimasa sekarang, dimana masa depan akan terwujud dengan aksi dimasa sekarang. Dan sebelum masa sekarang berubah menjadi masa lalu yang hanya bisa dikenang dan diucapkan berulang-ulang dengan penyesalan, mari singsingkan lengan bajumu anak muda. Capai puncak kesuksesan kita dengan gemilang.

About d0th

shut up and move on.

7 responses »

  1. Fansi says:

    Bikin resolusi nggak mesti nunggu taun baru.

    Tiap hari kan juga hari baru, umur baru, kesempetan baru. Mestinya tiap hari kita bikin resolusi.

    Aku juga kurang setuju dengan kalimat “keluar dari zona nyaman”. Kalo memang nyaman, kenapa harus pergi? Apa lebih baik berada dalam ketidaknyamanan, daripada yang nyaman? Kenapa malah nyari susah? Karena pengen tantangan? Duh, susahnya jadi manusia.

    • d0th says:

      Ahahaha..kan diawal tulisan aku udah bilang. Ini jadi semacam adat diawal tahun, bikin resolusi. Ntah darimana asal muasalnya, mungkin kalau diawal tahun lebih dapet “soul”-nya kali.

      kalau manusia ngga keluar dari zona nyaman hidupnya bakal stuck, jalan ditempat. Keluar dari zona nyaman bukan berarti pindah ke zona tidaknyaman. Tapi nyari “sesuatu” yang menantang. Yang kelak dimasa depan hal-hal yang udah dicapai itu akan jadi pembicaraan seru.

      • Fansi says:

        Iya juga sih bener. Nyaman kalo berkembang sih asik ya. Kalo nyaman tapi gak berkembang, malah menumpulkan intelektualitas (saking gak pernah kepacu belajar apa2 lagi), nah itu emang harus hati-hati. Tetep semangat!

        Tapi dimanapun kamu berada, yakinlah bahwa itulah yang terbaik yang dikasih Allah. Whatever will be, will be. Jadi gak usah ngoyo atau ngeluh gak kejuntrungan. Tetep senyum, semangat, dan berpikir positif, okay! ^o^

        *kok jadi ceramah sok tua gini sih?*

      • d0th says:

        Yep bener banget sama kaya bukunya Leo Tolstoy “GOD sees the truth, but waits”. Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu; Karena Dia tahu apa yang kamu butuhkan dan menunggu seberapa jauh usahamu (baik perbuatan maupun doa). *sektala, emang bukunya nyeritain ini?*

  2. Fansi says:

    Emang kamu baca cerita ini? Perasaan ceritanya bukan itu. Lebih ke soal takdir seseorang. Tau, kan, kayak kutipan di buku A Thousand Splendid Suns yang bunyinya: “Siapapun takkan bisa menghitung bulan-bulan yang berpendar di atas atap, ataupun seribu mentari surga yang bersembunyi di balik dinding.”

  3. bunz says:

    What a nice writing..
    Agree with that..like wise person says.. the important thing is not where you are now but where you are moving..🙂

    Life is a cycle, keep moving forward.. and keep the spirit up is yet to do so! Horaazz..

    Like this post! hehehehe…

    • d0th says:

      Ning, kowe ki ngomong opo toh? Aku kok ra mudeng Inggris? Mbok kuwi rambute di ketok disik, wis akeh corone. Pancen urip kuwi kudu moving forward, ojo nganti ketinggalan. Pokoe yen ono kesempatan ndang disikat wae. Yowis salam olah raga, mugi-mugi tahun iki makin sukses!

Ga ada cendol, komen pun jadi. Monggo..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s