Pernah tiba-tiba merasa girang bukan main? Sampai ngga bisa diem, bawaanya pengen ketawa mulu, eh..sedetik kemudian jadi sensi. Ngamuk-ngamuk, senggol dikit bacok. Giliran ditanya “Kowe nyangpo toh?” jawabannya “Mood lagi jelek. Napa? Ngajak ribut nanya-nanya?”

Hal semacam ini sangat umum terjadi. Mood selalu dijadikan alasan dalam setiap kesempatan. Waktu riang gumbirang, lantaran lagi good mood. Giliran sensi, bad mood jadi kambing hitam. Tapi emang ngga salah, sebab mood berperan besar dalam “menguasai” tingkah laku seseorang. Cuma masalahnya kadang sebagian orang ngga ngerti gimana caranya ngontrol mood yang baik.

Sebelum lanjut lebih jauh, kenalan dulu deh sama yang namanya mood. Pan tak kenyal..eh tak kenal maka tak sayang. Mood (setelah googling di area psikologi) adalah “keadaan jiwa yang dipengaruhi oleh emosi”. Perlu di garis bawahi, emosi disini bukan emosi yang meledak-ledak (baca: ngamuk) tapi emosi halus yang gampang berubah-rubah.

Nah udah udah kenal kan apa itu mood? Sekarang lanjut apa aja variabel (duile variabel..berat nih bahasanya) yang mempengaruhi.

1. Hormon
Adanya perubahan hormon yang mempengaruhi pikiran, tubuh dan jiwa. Perubahan ini terjadinya serentak, padahal perubahan sendiri walau sedikit pasti menimbulkan chaos. Karena chaos maka ada guncangan besar yang terjadi di pikiran dan jiwa.

2. Perang Batin
Ini yang paling sering terjadi pada usia-usia remaja. Contoh nih: Lagi cinta banget sama seseorang, tapi malu buat ngungkapin perasaan akhirnya dipendam karena belum siap menanggung resiko dan ngga punya solusi untuk hambatannya. Yang kaya begini ujung-ujungnya galau.

3. Cemas Tiada Akhir
Banyak hal-hal sehari hari yang bikin cemas. Misalnya perubahan fisik (ngrasa gendut, potongan rambut salah dll ), urusan keluarga (ribut ama ortu, rebutan warisan dll) sampai masalah pergaulan (jealous sama pacar, sebel sama temen dll). Bukannya hiperbolis, tapi kalau di pikir-pikir kejadian seperti itu pasti bikin cemas.

Mood Menejemen
Mood sebelas duabelas sama Jelangkung, datang ngga dijemput pulang ngga diantar. Mood ngga bisa diprediksi kapan “dia” datang dan kapan “dia” pergi. Tapi mood bisa dikendalikan supaya ngga kerepotan. Karena udah kenal dengan variabelnya, mood menejemen bisa diatur.

Pertama, dengan adanya perubahan hormon maka perlu suntikan ekstra hormon endorphine dan serotonin, hormon ini merupakan kumpulan hormon yang baik buat otak. Otak bakal merasa lebih santai dan tenang. Dan hormon ini bisa dikeluarkan lewat tertawa. Kendalanya, tertawa untuk alasan yang ngga lucu dan sendirian kadang susah dilakukan. Ngga perlu mikir kita lagi bikin hal konyol, ambil kaca dan tertawai diri sendiri. Orang bijak aja bilang gini “orang yang sehat adalah orang yang mampu menertawai dirinya sendiri”.

Kedua, perang batin terjadi karena otak udah mentok ngga bisa cari solusi. Itulah mengapa manusia menjadi mahluk sosial. Yep, kita ngga pernah hidup tanpa orang lain. Dengan sharing, maka sedikit banyak beban derita akan berkurang,dan punya solusi untuk mengambil keputusan. Sip!

Ketiga, membuang prasangka. Klimaks dari semua kecemasan yang ada sering kali berujung pada stuck. Atau, minimal makan hati sendiri. Sementara kita makin terkungkung dengan ego yang size-nya bertambah gede. Dan pada akhirnya kecemasan bakal menyebabkan salah satu pihak merasa terintimidasi bahkan tertindas. Apalagi umumnya kecemasan itu muncul karena adanya pikiran-pikiran negatif yang absurd kebenarannya.

Kata banyak orang, moody itu nggak baik. Soalnya orang yang moody berarti orang yang kekanak-kanakan. Nggak bisa ngendaliin diri, nggak bisa beradaptasi, egois dan bla bla bla…. Betul banget! Cuma “hukum” itu sebenernya berlaku buat orang yang udah masuk kategori dewasa. Kalau buat yang masih remaja, moody justru sesuatu yang normal. Kenapa? Soalnya saat moody, kita bakal banyak belajar dari efek yang ditimbulkan oleh mood tadi terhadap pola pikir, sikap, dan tingkah laku kita. Minimal dengan solusi diatas bisa menimilasir timbulnya bad mood. Kenapa cuma bad mood? Karena bad mood yang suka bikin hidup jadi kacau! Sementara good mood efeknya justru bagus. Bikin kita lebih semangat dan lebih lively.

About d0th

shut up and move on.

2 responses »

  1. Fansi says:

    Perubahan mood bisa dialami semua usia. Tapi semakin dewasa seseorang, biasanya semakin punya mood management yg baik. Karena sudah terlatih, sudah ditempa.

    Menurutku juga, sesuatu yg mengganggu pikiran itu merupakan sebuah kewajaran, karena manusia adalah makhluk yg punya hati. Manusia tuh lemah. Tinggal gimana ngendaliinnya.

    Manusia yg baik akan belajar dari kesalahannya, yg jadiin pengalaman buruk sesuatu yg mendewasakan, dan tidak menafikan kesalahan, contohnya perubahan mood, kekacauan emosi, sikap buruk sama orang lain.

    Apa yg menimpamu, seharusnya mendewasakanmu, gitu bukan?

    P.S. Btw, ‘chaoz’ kayaknya ga pake ‘z’ deh tapi ‘s’. Hehe.

    P.S.S. Tumben tulisannya ciamik. Langkah2 mengatasi masalah ditulis dgn baik. Bisa diaplikasiin. Ketauan nih riset dulu. Pasti lagi mood ya? Hahaha..

    • d0th says:

      3 paragraf pertamamu itu cocok banget kalau di buat kesimpulan. Yep kurang lebih seperti itu. Yang jelas jangan sampai kita dikendalikan bad mood, selain ngga sehat bad mood juga bikin hidup makin terpuruk. Masa iya mau melow atau ngamuk-ngamuk mulu? Ga enak kan? Iya ga enak.

      Eh sengaja aku pake “z” untuk “chaoz” supaya dikira anak gawul *ngawur*

      Iya bener bgt tulisan ini merupakan hasil riset panjang sebelum pada ahkirnya sampai kepada kesimpulan bahwa saya yang dahulu adalah guru yang baik untuk saya yang sekarang. SIP..!!

Ga ada cendol, komen pun jadi. Monggo..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s