Disaat seantero dunia sana sedang membicarakan serunya film-film Blockbuster, Di Indonesia sepertinya cukup senang dengan menjadi pengamat sinetron tanpa ujung yang entah kapan ceritanya berakhir. Film-film luar yang belum tentu bagus dipaksa masuk, karena dua distributor Film-film besar belum bayar pajak.

Sebenernya ada 7 distributor film di Indonesia. Tapi hanya dua distributor besar yang dicekal. Sebelum lanjut lebih jauh, mari berkenalan dulu dengan distributor film di Indonesia. Ini dia:

  1. PT Camila Internusa Film
    Salah satu distributor tertua di Indonesia. Dan sukses mendatangkan film-film Hollywood keluaran Sony/Columbia, Universal, dan Paramount
  2. PT Satrya Perkasa Esthetika Film
    Distributor besar ini juga mendatangkan film-film keluaran Hollywood seperti, 20th Century Fox, Disney, dan Warner Bros
  3. PT Amero Mitra Film
    Distributor film Hollywood juga, tapi bukan dari studio besar, melainkan yang kecil-kecil seperti  The Weinstein Company, Lionsgate, Screen Gems, Summit, dan CBS.
  4. Jive Entertainment
    Distributor ini  mengeluarkan film-film non Hollywood, seperti misalnya film-film dari Thailand, Perancis, Norwegia, dan lain-lain
  5. PT Parkit Film
    Kebanyakan mendatangkan film dari Bollywood dan beberapa film keluaran studio indie Hollywood.
  6. PT Teguh Bakti Mandiri
    Yang satu ini katanya spesialisasinya di film-film mandarin.
  7. PT Rapi Films
    Yang satu ini lebih terkenal sebagai Production House yang bikin banyak sinetron dan film bioskop, tapi ternyata mereka juga mengimport beberapa film barat.

Nah siapa 2 distributor yang kena cekal? Yup bener banget PT.Camila Internusa Film dan PT Satrya Perkasa Esthetika Film adalah distributor yang kena cekal. Problemnya adalah 2 distributor ini belum membayar pajak sejak tahun 1995 sampai sekarang! Dan  pajak yang ditunggak itu sekarang ditagih. (What the f*ck?).

Apa efeknya?

Di Hollywood sana, ada yang namanya Studio Big Six. Alias enam studio gede ala Hollywood yang punya studio berkelas seperti Sony/Columbia, Universal, Paramount, 20th Century Fox, Disney dan Warner Bros. Studio Big Six itu sendiri adalah pencetak film-film kelas wahid macam Transformer, Harry Potter, X-Men dan film-film box office lainnya.

Studio Big Six sudah menjalin kerja sama dengan Camilla dan Satrya Perkasa. Mereka ngga mau ngasih film untuk distributor lainnya, sehingga disini terjadi monopoli film. Akibatnya film-film Hollywood ngga mungkin masuk ke Indonesia tanpa perantara dua distributor yang kena cekal itu.

Sempat ada kabar baik pada bulan Juni lalu bahwa film-film Hollywood bakal masuk. Tapi karena ke-sotoy-an oknum-oknum diantah barantah sana, film-film ini jadi batal tayang. Sehingga batalnya menyisakan perih yang dalam dihati. Mungkin masih hangat di ingatan waktu Menbudpar Oding (bukan nama sebenarnya, red) bilang film-film Hollywood bakal masuk. Eh  ngga lama pernyataan itu diralat oleh Menkue Amat (bukan nama sebenarnya, red), bahwa urusan pajak belum selesai.

Dan sekarang kabar akan diputar kembali film-film Hollywood kencang berhembus. Indonesia mulai bersorak sorak gembira, akankah kegembiraan itu pudar? Ataukah menyisakan tangis haru bahagia? Walahualam…

About d0th

shut up and move on.

2 responses »

  1. shasoy says:

    Menarik sekali infonyaa…
    Mari kita buktikan minggu depan kebenaran gosipnya…
    Klo emang bener, kita wajib nontoooonnnn !!! ahahaha..

    • d0th says:

      Walahualam kalo itu mah..kalo bisa masuk, pasti harga tiketnya bengkak banget. Tapi gapapa deh, daripada nonton bajakan. ahahai..

Ga ada cendol, komen pun jadi. Monggo..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s